DI MASA PANDEMI, FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TIDAR SUKSES GELAR WEBINAR NASIONAL DENGAN TEMA “ RENEWABLE ENERGI : POTENSI, PROSPEK DAN ARAHAN RISET NASIONAL”

Magelang – Webinar yang digelar Fakultas Teknik Universitas Tidar sukses menarik minat peserta hingga 5000 lebih. Antusiasme peserta sangat luar biasa walaupun di masa pandemi Covid-19 ini. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari kolaborasi pihak Fakultas Teknik Universitas Tidar dengan Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta, Center of Research Excellence in Nano Technology, Chemical Engineering Department, dan King Fahd University of Petroleum & Minerals serta didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, PT. Supreme Energy, Forum Cendekiawan Minangkabau (FCWM), dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII Learning Center).

 Webinar dengan tema “Renewable Energy: Potensi, Prospek, dan Arah Riset Nasional” dilakukan melalui aplikasi Zoom dan juga disiarkan secara langsung di beberapa channel Youtube sekaligus, yaitu di channel Universitas Tidar, FTI Universitas Bung Hatta, FCWM, dan di channel pribadi milik Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. (komisaris utama PT. PGN Tbk) selaku Keynote Speaker pada Sabtu (4/7) lalu.

Narasumber lain yang mempresentasikan pemikiran-pemikirannya di forum ilmiah ini adalah Prof. Dr. Oki Muraza (dari King Fahd University of Petroleum & Minerals), Ir. Yulnofrin Nafilus (dari PT. Supreme Energy), dan Ir. Habibie Razak, M.M., ASEAN Eng., ACPE (dari PII Learning Center). Hal-hal yang telah dipaparkan oleh para narasumber selanjutnya dibahas oleh Dr. Ir. Sapto Nisworo, M.T., IPM (Dekan Fakultas Teknik Universitas Tidar) dan juga Dr. Ir. Hidayat, M.T., IPM (Dekan FTI Universitas Bung Hatta).

Acara yang dimulai pukul 14.30 WIB ini diawali dengan sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Mukh Arifin, M.Sc. (Rektor Universitas Tidar) dan Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA. (Rektor Universitas Bung Hatta). Kedua Rektor tersebut sangat mengapresiasi kepada para panitia yang diketuai oleh Arif Rahman Saleh, S.T., M.T. (Dosen Universitas Tidar) atas suksesnya kegiatan yang sangat luar biasa dan fantastis semacam ini. Selain karena mampu mendatangkan peserta dalam jumlah banyak, narasumber-narasumber yang hebat (pakar di bidangnya), tema yang diangkat juga sangat relevan di saat kondisi seperti sekarang ini. “Apalagi melihat pasca pandemi covid-19 nanti, tentunya energi terbarukan akan memainkan peran kunci dalam jangka panjang,” ujar Rektor Universitas Tidar yang diamini oleh Rektor Universitas Bung Hatta.

Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. mengawali presentasi dengan mengajak kita semua untuk mengingat dan merenungkan kembali Pasal 33 UUD 1945 yang salah satu ayat di dalamnya berbunyi, “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Beliau berpendapat, “Di dalam ayat tersebut, sedikitnya ada empat cita-cita ideal yang diinisiasi oleh pemikiran Bung Hatta yang dulu turut menyusun dan merumuskan ayat tersebut.” Namun, beliau juga menyadari bahwa pendapat hasil penafsisrannya tentang cita-cita ideal tersebut tidak bisa kita konfirmasi kepada Bung Hatta secara langsung karena beliau sudah meninggal.

Keempat cita-cita ideal hasil penafsiran Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. yang pertama adalah Sumber Daya Alam (SDA) harus dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa kita. Kedua, teknologi yang digunakan untuk mengambil SDA kita harus berasal dari teknologi yang kita ciptakan sendiri. Ketiga, Pendanaan eksplorasi SDA sebisa mungkin datang dari bangsa kita sendiri. Keempat, pemanfaatan SDA tersebut sebisa mungkin untuk kebutuhan dalam negeri. Jika berlebih, barulah kita ekspor ke negara lain. “Namun, sudahkah cita-cita ideal di atas sudah tercapai pada kondisi saat ini?” tanya beliau kepada para peserta Webinar.

Menurut Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D., antara cita-cita ideal hasil penafsirannya dengan kondisi saat ini ternyata masih mempunyai gap yang sangat besar. Beliau menegaskan, hal ini bukanlah untuk diperdebatkan, namun untuk bahan perenungan bersama. Misalnya, dengan memunculkan pertanyaan, Bagaimana agar kita semua bisa menutup atau setidaknya memperkecil gap yang ada? Bagaimana agar SDA bisa dikelola oleh putra-putri bangsa kita agar lebih efisien? Bagaimana dengan teknologi, pendanaan, dan pemanafaata SDA-nya?”

Beliau berpendapat bahwa untuk memperkecil gap tersebut semua harus mengambil perannya masing-masing. “Ini adalah peran kita semua, baik itu dari pemerintahan, akademisi, maupun dari sektor swasta yang harus mampu menutup gap agar bisa mengelola SDA sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” ujar Beliau.

Dalam pemaparannya yang semakin mengerucut, Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. lebih banyak berbicara tentang Technology Development untuk mengelola SDA bangsa Indonesia. Beliau menunjukkan common practice yang ada dan selama ini terjadi di Indonesia bahwa ternyata banyak research yang dikerjakan para peneliti maupun akademisi yang baik dan bisa dikatakan berteknologi tinggi. Namun, research tersebut ternyata tidak laku di pasar, industri, atau bahasa mudahnya tidak bisa diterapkan di Indonesia. Mengapa hal tersebut terjadi? “Karena tidak sesuai dengan Demand (kebutuhan),” kata Beliau. Jadi research berhenti di paper atau publikasi ilmiah saja. Tentu hal ini sangat disayangkan. Oleh karena itu, saat di sesi tanya jawab, beliau mencontohkan kasus proyek di PT. PGN Tbk. “Adakah kegiatan yang berdasarkan Demand yang kita carikan teknologinya sehingga menghasilkan biaya yang lebih efisien?” Ternyata hal tersebut diterapkan di proyek pengembangan pipa Rokan. “Setelah dilakukan penelaahan yang mendalam, termasuk dalam pemilihan teknologi, ternyata biaya proyek tersebut dapat dipangkas yang semula 450 juta dolar AS menjadi 300 juta dolar AS. Artinya, ada penghematan sebesar 150 juta dolar AS atau setara 2,1 triliun rupiah,” ungkap Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D..

 

Selanjutnya, beliau memaparkan tentang kendala pengelolaan Renewable Energy di Indonesia dengan memberikan pemantik berupa pertanyaan, “Kenapa Pricing atau tarif penjualan Renewable Energy di negara lain bisa lebih murah sementara di Indonesia susah bersaing dengan penjualan energi yang berasal dari fosil?”

 Beliau mengungkapkan masalah Financing adalah kendala atau tantangan utama yang harus dihadapi. Tidak lupa, beliau juga membandingkan dengan kondisi negara-negara lain di Eropa. Tantangan lainnya yaitu masalah Permits (ijin) yang sangat susah dan lama (bahkan bisa tahunan), Land Acquisition (pembebasan lahan), permasalahan Smart Grid System, dan Tax and Fiscal Incentives (tentang perpajakan).

Di penghujung presentasinya, Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. berpendapat, “Jika saja permits cepat, Land Acquisition bisa gratis, financing bisa berbunga rendah, maka di saat itulah kemajuan pengembangan Renewable Energy bisa dipercepat.” Artinya, “Tarif penjualan Renewable Energy kemungkinan besar akan bisa bersaing dengan energi yang berasal dari fosil,” pungkas beliau.

Di sesi selanjutnya, Prof. Dr. Oki Muraza (dari King Fahd University of Petroleum & Minerals) lebih banyak memaparkan tentang Bioenergy, Ir. Yulnofrin Nafilus (dari PT. Supreme Energy) sharing lebih banyak dari sisi bukti penerapan renewable energy yang sudah ada, dan Ir. Habibie Razak, M.M., ASEAN Eng., ACPE (dari PII Learning Center) memaparkan Engineer in Training Program yang bertujuan agar para insinyur freshgraduate bisa terlibat di pengembangan proyek-proyek renewable energy di Indonesia.

Webinar bisa dilihat di channel Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=hvog178qP-I

Rilis Berita oleh:
Ikhwan Taufik, S.Pd., M.Eng. (Panitia bagian publikasi, Dosen Teknik Mesin FT Untidar)
HP/WA: 085926091990

Diedit oleh:

Fibra Budyasoko K. N., S.T.